Skip to main content

Kalender Nikita

 


Semua jenis janji temu dengan Nikita akan dilaksanakan secara online.

Namun jika kamu sangat membutuhkan untuk bertemu offline, silakan disampaikan melalui email, dina.nazriani@gmail.com


Aturan Bimbingan Revisi Setelah Sidang Skripsi (Nikita sebagai Penguji)

Protokol bimbingan revisi:
    • Penjadwalan: Tag jadwal di Kalender Nikita.

    • Berkas: Kirim draft ke dina.nazriani@gmail.com minimal 24 jam sebelum jadwal.

    • Tanpa draft ≥24 jam: Jadwal dapat dijadwalkan ulang.

  1. Pengiriman Draft

    • Mahasiswa wajib mengirimkan draft revisi ke email saya (dina.nazriani@gmail.com) paling lambat 24 jam sebelum waktu yang diusulkan untuk diskusi.

    • Draft yang dikirim harus sudah sesuai panduan skripsi Program Studi Psikologi, USU.

  2. Proses Review

    • Saya akan membaca draft revisi dan memberikan review secara virtual melalui email. Jika saya membutuhkan pertemuan melalui Zoom, saya akan memberikan kabar kepada mahasiswa. Link zoom dari saya.

    • Mahasiswa wajib menindaklanjuti review dan mengirim kembali hasil perbaikan.

  3. ACC Revisi

    • ACC diberikan melalui email apabila revisi sudah sesuai dan perbaikannya tidak substansial.

    • Jika revisi masih substansial, saya akan meminta mahasiswa untuk menjadwalkan ulang di kalender. 

    • Saya akan sampaikan jenis revisinya di email yang saya kirimkan.

  4. Tanda Tangan Lembar Pengesahan

    • Tanda tangan di lembar pengesahan hanya diberikan setelah saya mengirimkan email ACC Revisi.

    • Lembar pengesahan silakan dititipkan di ruang akademik pada box “Nikita Teman Kamu”, dimasukkan ke dalam map dengan nama lengkap ditulis di bagian depan map.

    • Lembar pengesahan boleh dititipkan lebih awal, sebelum jadwal bertemu dengan saya.

  5. Ketentuan Waktu

    • Draft yang dikirim mepet (kurang dari 24 jam) tidak akan dibaca, mahasiswa harus tag jadwal berikutnya di link kalender nikita.

    • Mahasiswa wajib disiplin mengikuti arahan, agar proses revisi berjalan lancar.



Aturan Bimbingan Revisi Setelah Seminar Proposal (Nikita sebagai Penguji)

  1. Peran saya sebagai penguji, bukan konsultan alat ukur

    • Saya tidak memberikan masukan teknis/isi terhadap konstruksi, butir, atau prosedur validasi alat ukur.

    • Alasan: jika saya yang mengusulkan perbaikan alat ukur, maka saat ujian saya berpotensi menilai hasil masukan saya sendiri.

  2. Elemen krusial riset dibahas dengan dosen pembimbing

    • Semua keputusan tentang rumusan masalah/hipotesis, desain/metode, operasional variabel, instrumen, prosedur pengambilan data, analisis statistik, dan etika penelitian menjadi ranah diskusi mahasiswa–pembimbing.

  3. Boleh langsung mengambil data tanpa bimbingan dengan saya

    • Saya tidak mewajibkan sesi bimbingan dengan saya sebelum pengambilan data.

    • Tanggung jawab kesiapan instrumen, prosedur, dan perizinan tetap pada mahasiswa bersama pembimbing.

  4. Tidak ada prosedur “pengesahan revisi” oleh saya

    • Saya tidak menerbitkan lembar/ceklist/acc revisi seminar proposal.

    • Hak penetapan “siap ambil data” berada pada pembimbing (dan/atau ketentuan program studi).

  5. Protokol jika membutuhkan diskusi dengan saya

    • Penjadwalan: Tag jadwal di Kalender Nikita.

    • Berkas pra-diskusi: Kirim draft atau bahan diskusi ke dina.nazriani@gmail.com minimal 24 jam sebelum jadwal.

    • Tanpa draft ≥24 jam: Jadwal dapat dijadwalkan ulang.



Comments

Popular posts from this blog

Konsep Dasar Kreativitas

Konsep Dasar Kreativitas Pendahuluan Kreativitas merupakan salah satu aspek penting dalam psikologi yang berkaitan erat dengan kemampuan individu untuk menghasilkan gagasan baru, berguna, serta sesuai dengan konteks sosial dan budaya. Mata kuliah Psikologi Kreativitas di Fakultas Psikologi USU menempatkan pemahaman tentang konsep dasar kreativitas sebagai landasan sebelum membahas pendekatan 4P, pengukuran, maupun aplikasinya. Definisi Kreativitas Secara umum, kreativitas didefinisikan sebagai kemampuan menghasilkan ide yang baru (novel) dan berguna (useful) (Amabile, 1983; Shalley & Breidenthal, 2021). Dua dimensi ini—kebaruan dan kegunaan—merupakan konsensus utama dalam penelitian modern. Meski demikian, beberapa pakar sebelumnya menekankan aspek orisinalitas dan kesesuaian (Barron, 1955; Stein, 1974). Karakteristik Kreativitas Kebaruan (novelty): ide harus berbeda dari yang sudah ada. Kegunaan (usefulness): ide harus relevan dan memiliki nilai praktis. Proses heuristik: kre...

Resume Kalat Chapter 1-Nerve Cells and Nerve Impulses

Nerve Cells  and Nerve Impulses Modul 1.1-The Cells of the Nervous System 1. Neurons and Glia Neuron adalah unit dasar sistem saraf, berfungsi menerima, memproses, dan menyampaikan informasi. Struktur utama neuron: soma (badan sel), dendrit (penerima sinyal), akson (penghantar sinyal), dan terminal sinaptik. Glia bukan hanya “lem” otak, tetapi memiliki peran penting: mendukung metabolisme neuron, membentuk mielin, membuang sisa metabolik, serta membantu komunikasi kimiawi. Jumlah sel glia hampir sama atau bahkan lebih banyak dibanding neuron, tergantung area otak. 2. The Blood–Brain Barrier Merupakan mekanisme pertahanan otak dari zat berbahaya dalam darah. Dibentuk oleh sel endotel yang rapat serta didukung astrosit. Melindungi otak dari racun, patogen, dan fluktuasi kimia darah, tetapi juga membatasi masuknya obat-obatan tertentu. Zat yang larut lemak (misalnya nikotin, alkohol) dan molekul kecil (oksigen, karbondioksida) dapat menembus dengan mudah,...

Konsep Sensasi dan Persepsi dalam Praktik Kedokteran Gigi

  Sensasi dan Persepsi dalam Praktik Kedokteran Gigi Pendahuluan Dalam konteks pelayanan kesehatan, pengalaman pasien terhadap prosedur medis tidak hanya ditentukan oleh kondisi biologis atau teknis semata, melainkan juga oleh bagaimana mereka merasakan dan menafsirkan stimulus yang berasal dari lingkungan klinis. Dalam praktik kedokteran gigi, pemahaman tentang sensasi dan persepsi menjadi penting karena pasien sering kali mengalami kecemasan, rasa takut, atau nyeri yang tidak sebanding dengan prosedur objektif yang dilakukan. Oleh karena itu, dokter gigi perlu memahami bagaimana sensasi diterima secara fisiologis dan bagaimana persepsi terbentuk secara psikologis sehingga dapat mengelola pengalaman pasien secara holistik. Menurut Kalat (2016), sensasi adalah proses biologis ketika reseptor sensorik mendeteksi energi fisik dari lingkungan, sedangkan persepsi adalah proses psikologis dalam memberikan makna terhadap sensasi tersebut. Kedua proses ini saling berhubungan dan me...