Skip to main content

Posts

Recent posts

mengeluhkan pernyataan pejabat publik

Judul dari tulisan ini salah, jika ditinjau dari tata cara penulisan dalam Bahasa Indonesia. Semestinya, setiap huruf di awal kata adalah huruf kapital. Jadi, mempertimbangkan kesalahan bahkan sejak di judul, selayaknya tulisan ini tidak perlu dibaca.  Bukan, bukan saya merasa inferior , atau mungkin kalian pikir self esteem saya sangat rendah.  Sebenarnya saya ingin menyindir pejabat publik yang asal-asalan. Asal-asalan nulis sampai dipakai jadi referensi. Asal-asalan ngomong sampai membuat orang yang mendengar jadi resah. Apakah sindiran ini bakal sampai kepada mereka? Ya, jelas tidak. Seperti yang telah saya tuliskan di awal tadi, bahkan tulisan ini tidak perlu dibaca, dan tentunya tidak bisa disampaikan kepada pejabat publik itu untuk dijadikan bahan masukan dan kritikan.  Jadilah tulisan ini hanya sekedar keluhan biasa dari orang biasa yang bahkan tidak paham cara mengisi CoreTax hehehehe Pejabat publik di Indonesia, ada yang menyarankan mematikan kompor saat masaka...

Sein Kanan, Belok Kiri: Kenapa Kita Hobi Menertawakan Ibu-Ibu di Jalan?

Pendahuluan: Ketika Tawa Menjadi Cermin yang Retak Ada sebuah lelucon yang hidupnya lebih panjang dari kebanyakan tren di internet Indonesia. Ia tidak butuh algoritma untuk bertahan. Cukup satu grup WhatsApp keluarga, satu kolom komentar di video dashcam, atau satu status Facebook yang dibagikan ulang ribuan kali. Bunyinya kira-kira begini:  "Hati-hati kalau ada motor sein kanan, belok kirinya yang beneran."  Atau variannya yang lebih jujur:  "Sein itu aksesori, Bro. Buat ibu-ibu, fungsinya dekoratif." Kita tertawa. Atau setidaknya, kita terbiasa tertawa. Lelucon ini bukan lahir dari satu momen tunggal. Ia adalah endapan dari ratusan video yang berseliweran di platform seperti TikTok, YouTube Shorts, hingga grup Telegram pengemudi ojek online—video-video berdurasi pendek yang merekam momen "dramatis" di jalan raya: seorang perempuan paruh baya yang tiba-tiba memotong jalur, berhenti mendadak di tengah simpang, atau berputar balik tanpa isyarat yang terbaca...

Tulisanku kalau lagi PMS

Sebab diasuh oleh musik El-Suraya, maka liriknya terasa lebih relate. Bila diri ingin dikenang, semailah benih di tengah sawah. Bawalah ilmu padi di ladang, tambah berisi, tunduk ke bawah.  Itu kutipan lirik dari bait pertama lagu Fatwa Orangtua. Sudah jarang kan dengar yang romansa melayu gini? Quote inspirasional yang trend sekarang biasanya in english atau tetap dalam bahasa Indonesia, tapi kurang Melayu. Misalnya kayak, "jangan suruh aku sabar, aku udah lewatin karantina Covid jauh dari keluarga", atau lainnya. Lirik itu dinyanyikan dengan alunan musik yang seperti irama padang pasir. Vokalnya juga mendukung, mendayu-dayu. Belum lagi ada elemen nostalgia, jadi setiap kali mendengar El-Suraya, seperti sedang berada di rumah Atok. Itu masih bait pertama, coba perhatikan kutipan lain ini.  Bila ingin harum bak mawar, jauhi sifat meninggi diri. Bisa ular tidakkan tawar, walau menyuruk batang berduri.  Bagaimana mungkin manusia bisa harum namanya jika dia tidak meninggikan...

Bikinlah kalau bisa!

Ciri-ciri Orang Mukmin

Indonesia Menurut Saya - Tulisan Gaviota Mahdi Azzaydan