Dunia digital, misalnya kayak Whatsapp, sangkin masifnya seolah-olah adalah dunia nyata. Hal-hal yang awalnya berlaku di dunia nyata, "dipaksakan" untuk berlaku di Whatsapp. Jika dalam kehidupan sekarang, digitalisasi adalah nyata, maka sebenarnya perpindahan itu bukanlah salah, karena berarti dunia digital bisa dipaksakan sama dengan dunia nyata. Berarti etika dunia nyata juga bisa dipakai di dunia digital. Ya, tapi dengan berbagai penyesuaian di berbagai poin ya. Demikian pula masalah yang terjadi. Masalah di grup Whatsapp, misalnya, menjadi sangat krusial, hingga bisa bikin kehidupan nyata jadi kayak berhenti sebentar untuk menyelesaikan masalah di grup. Tapi balik lagi, karena sekarang ini dunia adalah dunia digital dan ini nyata, maka tidak salah dikatakan bahwa masalah di grup Whatsapp adalah masalah nyata.
Grup Whatsapp, entitas ini sudah menjadi bagian terbesar dalam kehidupan nyata. Paling tidak di Indonesia, atau Medan atau mungkin cuma di komunitasku. Berbagai hal dapat terjadi di sini. Bisa bikin pengajian. Bisa bikin kuliah. Jadi tempat arisan. Jadi tempat gosip. Jadi tempat kerja. Jadi segala hal yang ada di dunia nyata tapi dalam bentuk digital. Kalau dulu ada pertemuan rutin reuni SMA, sekarang tidak perlu repot-repot. Tinggal bikin grup Whatsapp, dan reuni digital dapat dilaksanakan.
Balik lagi ke masalah manusia digital. Kita sepakati bahwa Whatsapp adalah nyata, dan masalah yang terjadi di Whatsapp adalah nyata. Seperti layaknya komunitas, maka demikianlah pula grup Whatsapp. Di dalam grup itu ada individu dengan variasi masalah yang cenderung tinggi, artinya hampir tidak ada dua orang yang memiliki masalah yang sama. Ada individu yang suka berbagi kegiatannya di grup. Ada individu yang lebih suka menjadi silent reader. Ada yang individu yang memerankan diri sebagai pengurus grup. Ada inidvidu yang mengaku bukan bagian dari komunitas itu tapi tidak pernah keluar dari grup.
Perbedaan setiap individu menjadi satu diantara sekian banyak sebab dari terjadinya konflik. Misalnya, seseorang yang punya karakter suka dipuji atau suka diperhatikan mungkin akan membagikan seluruh foto kegiatannya di grup. Individu seperti ini perlu didalami latar belakangnya. Jika dia melakukan hal itu karena luka psikologis, maka kehebohannya berbagi foto mungkin adalah caranya lari dari luka-luka itu. Di saat yang bersamaan, ada individu yang berperan sebagai penjaga grup. Tentunya akan tersinggung dengan berbagai foto yang dibagikan. Bagi penjaga grup, foto-foto itu adalah noda dalam grup yang terhormat. Individu lain berpikir bahwa foto-foto adalah penghibur. Individu lain berpikir bahwa cara terbaik untuk tetap merasa menjadi bagian dari komunitas itu, tapi tidak terseret dalam konfliknya adalah menjadi silent reader kemudian secara berkala clear chat.
Apakah ada yang benar? Apakah ada yang salah? Tidak ada yang benar, dan tidak ada yang salah. Layaknya kehidupan manusia sebelum Whatsapp, segala hal yang terjadi di dunia ini akan memiliki perspektif berbeda dari setiap sudut pandang yang melihatnya. Individu yang suka share foto-foto punya perspektif, ini adalah grup yang mampu menerimaku, disinilah aku aman dan tanpa sindiran atau ejekan. Individu lain, ini grup bukan tempat cari pengakuan, ini adalah grup penting yang ditujukan untuk hal-hal penting. Bagi yang suka membagikan foto, perilaku orang yang menyindirnya adalah mungkin sebuah ancaman. Bagi yang terganggu dengan foto, perilaku orang yang kirim foto adalah mungkin sebuah ancaman.
Perilaku manusia-manusia digital seperti itu, bisa juga dijelaskan pakai konsep psikologi. Kalau pake teori atribusi bisa dibahas gimana cara individu memahami perilaku individu lain. Kalau seseorang melihat dengan perspektif atribusi internal, perilaku seseorang dianggap sebagai bagian dari dirinya, atau memang udah bawaan gitu. Misalnya, seseorang di grup WhatsApp yang rajin membagikan foto bisa langsung dinilai “narsis” atau “suka cari perhatian”. Ada juga individu yang melihat perilaku orang lain dengan perspektif atribusi eksternal; perilaku terjadi karena situasinya. Misalnya, seseorang yang rajin kirim foto tadi dinilai oleh anggota lain sebagai pertanda bahwa orang tersebut sedang kesepian, butuh dukungan sosial, atau sekadar ingin berbagi kebahagiaan. Dua perspektif ini menyebabkan satu perilaku dinilai beragam oleh orang lain; multi tafsir. Ada yang melihatnya sebagai gangguan, ada pula yang menganggapnya wajar atau bahkan menyenangkan. Setiap orang punya kecenderungan kutub atribusi, makanya wajar selalu ada tafisr yang berbeda pada satu kejadian. Hal ini berarti pula, gak ada satu kutub yang benar dan gak ada satu kutub yang salah.
Di sisi lain, manusia juga punya kemampuan untuk memahami bahwa orang lain punya pikiran dan perasaan berbeda, disebut Theory of Mind. Kalau kemampuan ini dipakai dengan baik, kita bisa lebih paham kenapa teman di grup berperilaku begitu. Misalnya, seorang silent reader mungkin diam bukan karena cuek, tapi karena sadar bahwa si tukang upload foto sebenarnya lagi butuh perhatian. Sebaliknya, seorang “penjaga grup” yang cepat tersinggung mungkin sulit melihat dari kacamata orang lain, sehingga merasa semua orang harus ikut menjaga aturan yang sama.
Konflik manusia digital seperti ini muncul karena campuran dua hal: bagaimana kita memberi atribusi atas perilaku orang lain, dan sejauh mana kita mampu membayangkan dunia dari sudut pandang mereka. Kalau dua hal ini jalan seimbang, mungkin pertengkaran di grup Whatsapp bisa lebih sering berubah jadi tawa daripada jadi masalah serius.
Konflik yang muncul bukan soal siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan soal bagaimana kita menafsirkan orang lain dan sejauh mana kita mampu memahami perspektif mereka. Grup Whatsapp, dengan segala drama dan kelucuannya, hanyalah panggung kecil tempat manusia belajar bahwa perbedaan sudut pandang itu wajar adanya. Mungkin yang paling penting bukanlah mencari siapa yang harus dihakimi, tapi bagaimana kita bisa tetap saling memahami meskipun melalui layar HP.
Dan, ini cuma perspektif saya. Saya tidak benar, Anda tidak salah.
Salam.
Comments
Post a Comment