Chapter 3-Biological Psychology; Kalat
Module 3.1 — Structure of the Vertebrate Nervous System
Terminology to Describe the Nervous System
Arah/anatomi dasar: dorsal–ventral, anterior–posterior, medial–lateral; ipsilateral vs kontralateral.
Susunan: sistem saraf pusat (SSP: otak & medula spinalis) vs sistem saraf perifer (SSPef: somatik & otonom).
Materi abu-abu (badan sel/soma) vs materi putih (akson ber-mielin/serabut asosiasi & komisure).
The Spinal Cord
Tersusun atas dorsal roots (sensorik masuk) dan ventral roots (motorik keluar).
Bagian dalam: materi abu-abu; bagian luar: jalur materi putih naik–turun.
Mengoordinasi refleks dasar; menjadi “jalur tol” komunikasi otak–tubuh.
The Autonomic Nervous System
Simpatik: “fight/flight”; ganglia berantai dekat tulang belakang; neurotransmiter utama: norepinefrin.
Parasimpatik: “rest/digest”; ganglia dekat organ; neurotransmiter utama: asetilkolin.
Keduanya bekerja antagonistik–kooperatif menjaga homeostasis.
The Hindbrain
Medulla: fungsi vital (napas, denyut jantung, muntah).
Pons: jembatan jalur sensorimotor; nukleus untuk tidur & mimpi (REM).
Reticular formation: kewaspadaan & bangun–tidur.
Cerebellum: koordinasi gerak halus, timing, pembelajaran motorik; juga kontribusi atensi & kognisi waktu.
The Midbrain
Tectum: kolikulus superior (orientasi visual) & inferior (orientasi auditori).
Tegmentum: berbagai nukleus motorik & motivasional.
Substantia nigra: sumber dopamin ke basal ganglia (kontrol gerak).
The Forebrain
Thalamus: “stasiun relay” sensorik ke korteks.
Hypothalamus: motivasi dasar (makan, minum, seks), suhu, ritme sirkadian; kontrol endokrin via hipofisis.
Limbic system: amigdala (emosi/ancaman), hipokampus (memori deklaratif & spasial), cingulate gyrus (kontrol emosi/nyeri).
Basal ganglia: kaudatus–putamen–globus pallidus; inisiasi gerak, kebiasaan, seleksi tindakan & penghargaan.
Nucleus basalis: input kolinergik yang memodulasi atensi ke korteks.
Korteks serebri: lapisan luar berlipat (lihat Module 3.2).
The Ventricles
Rongga berisi cerebrospinal fluid (CSF) diproduksi choroid plexus; menahan beban otak, membawa nutrisi, membuang limbah.
Ketidakseimbangan aliran/penyerapan → hidrosefalus (tekanan/inflate ventrikel) dan dapat merusak jaringan.
In Closing: Learning Neuroanatomy
Gunakan peta arah, asosiasi fungsi, dan mnemonics; kenali jalur besar (sensorik masuk → thalamus → korteks; motorik sebaliknya) serta pasangan struktur–fungsi yang sering muncul.
Module 3.2 — The Cerebral Cortex
Organization of the Cerebral Cortex
Terdiri dari enam lamina (I–VI) dan kolom kortikal (neuron dalam satu kolom merespons input serupa).
Hubungan antarlobus dijembatani serabut komisure (terutama corpus callosum).
Area primer menerima input sensorik/mengirim output motorik; association areas mengintegrasikan multimodal.
The Occipital Lobe
V1 (primary visual cortex): fitur dasar penglihatan (tepi, orientasi, gerak). Lesi → cortical blindness.
The Parietal Lobe
S1 (somatosensori primer): peta tubuh (homunkulus).
Integrasi sensorik–spasial; penting untuk perhatian ruang & tindakan berarah (mis. dorsal stream “where/how”).
The Temporal Lobe
Pemrosesan auditori; pengenalan objek/wajah (agnosia bila terganggu).
Bahasa reseptif (area Wernicke, hemisfer dominan).
Kaitan kuat dengan memori (kedekatan dengan hipokampus) & emosi (amigdala).
The Frontal Lobe
M1 (motor primer): komando gerak halus (somatotopi).
Prefrontal cortex: fungsi eksekutif—perencanaan, kerja memori, penghambatan, pengambilan keputusan & sosial.
Bahasa ekspresif (area Broca, dominan kiri).
How Do the Parts Work Together?
Perilaku muncul dari jaringan: integrasi bottom-up (sensorik→asosiasi) dan top-down (tujuan/ekspektasi).
Konektivitas materi putih (mis. fasciculus) menyatukan specialized modules; masalah “binding” diselesaikan lewat sinkronisasi neural & perhatian.
In Closing: Functions of the Cerebral Cortex
Tiap lobus punya spesialisasi, tetapi fungsi kompleks (bahasa, memori, kontrol diri) bergantung pada koordinasi lintas-area.
Module 3.3 — Research Methods
Effects of Brain Damage
Lesi/ablasi & studi kasus (mis. perubahan kepribadian, defisit spesifik) mengungkap keterkaitan struktur–fungsi.
Keterbatasan: plastisitas/kompensasi, kerusakan jarang “selektif murni”, dan korelasi ≠ kausalitas yang rapi.
Effects of Brain Stimulation
Stimulasi listrik/kimia pada hewan; TMS (non-invasif, virtual lesion sementara) pada manusia; optogenetics (menghidupkan/mematikan neuron spesifik dengan cahaya) pada model hewan.
Kekuatan: mendekati uji kausal; keterbatasan: penyebaran arus, spesifisitas jaringan.
Recording Brain Activity
Single-unit/multi-unit recording: resolusi tinggi, invasif (hewan/klinis).
EEG/ERP: temporal sangat baik, murah; spasial terbatas.
MEG: temporal sangat baik, spasial lebih baik dari EEG, mahal.
PET: tracer radioaktif; pemetaan metabolik, spasial moderat.
fMRI (BOLD): spasial baik, temporal sedang; sensitif pada desain tugas.
Pilih metode = kompromi resolusi temporal–spasial–invasivitas.
Correlating Brain Anatomy with Behavior
CT/MRI struktural: volume, ketebalan korteks, lesi; DTI: jalur materi putih.
Analisis korelasional harus hati-hati terhadap reverse inference dan faktor perancu (usia, pendidikan, obat, dll.).
In Closing: Research Methods and Progress
Kemajuan paling kuat datang dari konvergensi bukti: gabungkan lesi, stimulasi, rekaman aktivitas, dan pencitraan struktural; pertimbangkan etika & validitas ekologi.
Comments
Post a Comment