Tentang Ketulusan yang Hilang di Balik “Nilai”
Ada sesuatu yang tidak keren—bahkan menyedihkan—ketika perilaku baik seseorang dikaitkan dengan peluang memperoleh nilai tinggi. Dalam konteks pendidikan, terutama di universitas, itu bukan sekadar soal etika akademik. Itu menyentuh inti dari kemanusiaan dan keotentikan niat.
1. Kebaikan yang Transaksional: Bentuk Terendah dari Moralitas
Filsuf Immanuel Kant menyebut moralitas sejati sebagai tindakan yang dilakukan “demi kewajiban itu sendiri”, bukan karena konsekuensi atau imbalan. Jika seorang mahasiswa bersikap sopan, rajin, atau menghormati dosen semata-mata karena berharap nilai A, maka kebaikan itu kehilangan substansi moralnya. Ia berubah menjadi transaksi.
Psikologi sosial mengenal istilah instrumental behavior: perilaku yang dilakukan untuk mendapatkan hasil tertentu. Tidak ada yang salah dengan strategi, tapi ketika seluruh relasi guru-murid direduksi menjadi kalkulasi “aku baik agar nilainya bagus,” kita sedang menyaksikan degradasi makna belajar.
2. Relasi Akademik Bukan Pasar Nilai
Dalam dunia pendidikan, relasi antara dosen dan mahasiswa idealnya berbasis mutual respect dan intellectual honesty. Nilai hanyalah simbol dari pemahaman dan kerja keras—bukan hadiah karena menyenangkan pengajar.
Ketika mahasiswa mengaitkan perilaku baik dengan nilai, ia seolah berkata: “Aku tahu integritas bisa dinegosiasikan.”
Padahal, psikologi moral menunjukkan bahwa kebiasaan menukar etika dengan keuntungan kecil akan menumpulkan sensitivitas terhadap nilai-nilai luhur dalam jangka panjang. Dari hal kecil seperti ini, karakter mulai keropos.
3. Kebaikan Sejati Tidak Butuh Penonton
Filsafat eksistensialisme, seperti dalam pemikiran Jean-Paul Sartre, menekankan authentic being — keberadaan yang jujur pada diri sendiri. Bertindak baik karena ingin terlihat baik di mata dosen berarti menyerahkan kebebasan eksistensial pada pandangan orang lain. Itu semacam alienasi diri moral.
Sementara dari perspektif psikologi humanistik (Carl Rogers, Maslow), manusia berkembang ketika tindakannya selaras dengan nilai internalnya—bukan karena validasi eksternal. Jadi, mahasiswa yang sopan karena sadar bahwa menghormati pengajar adalah nilai kemanusiaan, bukan nilai akademik, justru menunjukkan kematangan psikologis.
4. Pendidikan Seharusnya Mengajar Kemandirian Moral
Tujuan pendidikan bukan mencetak individu yang pandai membaca keinginan dosennya, tapi yang mampu menimbang benar dan salah dengan nalar sendiri.
Jika mahasiswa belajar mengaitkan perilaku baik dengan nilai, maka ia belajar berpikir bahwa kebaikan hanya berharga ketika ada imbalan. Padahal dunia membutuhkan orang yang bisa berbuat baik bahkan ketika tak ada yang menilai.
Dalam psikologi perkembangan moral Kohlberg, ini masih berada di tahap paling rendah — preconventional level — di mana perilaku baik dilakukan untuk menghindari hukuman atau memperoleh ganjaran. Sementara individu dewasa moral mestinya sudah sampai pada postconventional level: bertindak berdasarkan prinsip universal dan kesadaran diri.
5. Menjadi Keren Justru Saat Tidak Mengharapkan Balasan
Yang benar-benar keren bukanlah mahasiswa yang pandai “membaca” dosennya, tapi yang mampu tetap sopan, rajin, dan kritis meski tahu nilainya mungkin tidak selalu sempurna. Itu bukan kelemahan—itu kekuatan batin.
Karena nilai akademik bisa pudar, tapi nilai diri adalah hal yang dibangun dari ketulusan yang konsisten.
Seperti kata Albert Camus, “Integrity has no need of rules.”
Ketulusan tak perlu perhitungan, apalagi kalkulasi nilai. Ia cukup menjadi dirinya sendiri — jujur, hangat, dan teguh di tengah dunia yang gemar menawar makna.
---
Comments
Post a Comment