Skip to main content

Tergesa-gesa.

Berawal dari sebuah perlombaan biologis: jutaan sel sperma berlari menuju satu sel telur, berpacu melawan waktu dan nasib. Hanya satu yang berhasil, dan darinya terbentuklah kehidupan. Sejak detik pertama, manusia adalah makhluk yang dibentuk dari kecepatan, dari dorongan untuk mendahului yang lain. Maka, wajar bila tergesa-gesa seakan sudah mendarah daging dalam diri kita, mungkin bahkan tertulis di DNA kita sendiri.

Namun, tergesa-gesa yang dulu adalah perjuangan, kini sering menjelma menjadi kebiasaan. Dulu, kecepatan adalah bentuk makna: naluri untuk bertahan hidup, untuk menjadi yang terbaik agar bisa “ditakdirkan” hidup. Sekarang, kecepatan menjadi jebakan: kita berlari tanpa tahu arah, berpacu tanpa tujuan. Dunia modern memuja produktivitas dan hasil, hingga manusia kehilangan ruang jeda, ruang untuk sekadar bernapas, untuk menyadari bahwa hidup bukan sekadar mencapai, tetapi juga menghayati.

Dalam filsafat eksistensialisme, khususnya dalam pemikiran Kierkegaard dan Heidegger, manusia sering lupa untuk “ada” secara sadar (to be present). Mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk aktivitas, melupakan keber-adaannya sendiri. Kierkegaard menyebut ini sebagai despair of the self, kehilangan diri karena terlalu sibuk menjadi sesuatu bagi dunia, bukan menjadi seseorang bagi dirinya. Heidegger menyebutnya fallenness jatuh ke dalam dunia kesibukan (das Man), di mana manusia hidup seperti orang lain hidup, bukan sebagaimana dirinya yang otentik.

Barangkali, tergesa-gesa kita hari ini adalah refleksi samar dari asal-usul kita, cerminan samar dari perlombaan purba antara sel-sel kehidupan. Tetapi, di antara miliaran langkah cepat dan notifikasi yang berdering tanpa henti, manusia masa kini sering kali lupa bahwa proses penciptaan tidak berhenti di kecepatan. Setelah pembuahan terjadi, justru dimulai fase paling lambat dan hening: sembilan bulan di dalam rahim, dalam keheningan dan kegelapan, di mana kehidupan tumbuh pelan-pelan, diam tapi pasti.

Di sanalah paradoksnya: kita diciptakan dari kecepatan, tapi dibentuk oleh keheningan. Mungkin, sejatinya manusia bukan hanya makhluk yang berlari, tetapi juga makhluk yang membutuhkan jeda. Bahwa tergesa-gesa bukanlah hakikat yang harus diteruskan, melainkan kenangan biologis yang perlu disadari dan diimbangi.

Maka, pertanyaannya: apakah kita tergesa-gesa hari ini karena sedang menghayati hakikat asal penciptaan, sebuah dorongan purba untuk menjadi yang terbaik? Ataukah kita sekadar terbawa arus duniawi yang memaksa kita terus bergerak agar tak tertinggal?

Mungkin jawabannya ada di ruang-ruang di antara kesibukan itu sendiri, di momen ketika kita berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat bahwa bahkan kehidupan pun membutuhkan waktu untuk tumbuh dalam diam.


Comments

Popular posts from this blog

Konsep Dasar Kreativitas

Konsep Dasar Kreativitas Pendahuluan Kreativitas merupakan salah satu aspek penting dalam psikologi yang berkaitan erat dengan kemampuan individu untuk menghasilkan gagasan baru, berguna, serta sesuai dengan konteks sosial dan budaya. Mata kuliah Psikologi Kreativitas di Fakultas Psikologi USU menempatkan pemahaman tentang konsep dasar kreativitas sebagai landasan sebelum membahas pendekatan 4P, pengukuran, maupun aplikasinya. Definisi Kreativitas Secara umum, kreativitas didefinisikan sebagai kemampuan menghasilkan ide yang baru (novel) dan berguna (useful) (Amabile, 1983; Shalley & Breidenthal, 2021). Dua dimensi ini—kebaruan dan kegunaan—merupakan konsensus utama dalam penelitian modern. Meski demikian, beberapa pakar sebelumnya menekankan aspek orisinalitas dan kesesuaian (Barron, 1955; Stein, 1974). Karakteristik Kreativitas Kebaruan (novelty): ide harus berbeda dari yang sudah ada. Kegunaan (usefulness): ide harus relevan dan memiliki nilai praktis. Proses heuristik: kre...

Resume Kalat Chapter 1-Nerve Cells and Nerve Impulses

Nerve Cells  and Nerve Impulses Modul 1.1-The Cells of the Nervous System 1. Neurons and Glia Neuron adalah unit dasar sistem saraf, berfungsi menerima, memproses, dan menyampaikan informasi. Struktur utama neuron: soma (badan sel), dendrit (penerima sinyal), akson (penghantar sinyal), dan terminal sinaptik. Glia bukan hanya “lem” otak, tetapi memiliki peran penting: mendukung metabolisme neuron, membentuk mielin, membuang sisa metabolik, serta membantu komunikasi kimiawi. Jumlah sel glia hampir sama atau bahkan lebih banyak dibanding neuron, tergantung area otak. 2. The Blood–Brain Barrier Merupakan mekanisme pertahanan otak dari zat berbahaya dalam darah. Dibentuk oleh sel endotel yang rapat serta didukung astrosit. Melindungi otak dari racun, patogen, dan fluktuasi kimia darah, tetapi juga membatasi masuknya obat-obatan tertentu. Zat yang larut lemak (misalnya nikotin, alkohol) dan molekul kecil (oksigen, karbondioksida) dapat menembus dengan mudah,...

Konsep Sensasi dan Persepsi dalam Praktik Kedokteran Gigi

  Sensasi dan Persepsi dalam Praktik Kedokteran Gigi Pendahuluan Dalam konteks pelayanan kesehatan, pengalaman pasien terhadap prosedur medis tidak hanya ditentukan oleh kondisi biologis atau teknis semata, melainkan juga oleh bagaimana mereka merasakan dan menafsirkan stimulus yang berasal dari lingkungan klinis. Dalam praktik kedokteran gigi, pemahaman tentang sensasi dan persepsi menjadi penting karena pasien sering kali mengalami kecemasan, rasa takut, atau nyeri yang tidak sebanding dengan prosedur objektif yang dilakukan. Oleh karena itu, dokter gigi perlu memahami bagaimana sensasi diterima secara fisiologis dan bagaimana persepsi terbentuk secara psikologis sehingga dapat mengelola pengalaman pasien secara holistik. Menurut Kalat (2016), sensasi adalah proses biologis ketika reseptor sensorik mendeteksi energi fisik dari lingkungan, sedangkan persepsi adalah proses psikologis dalam memberikan makna terhadap sensasi tersebut. Kedua proses ini saling berhubungan dan me...