Skip to main content

Sein Kanan, Belok Kiri: Kenapa Kita Hobi Menertawakan Ibu-Ibu di Jalan?


Pendahuluan: Ketika Tawa Menjadi Cermin yang Retak

Ada sebuah lelucon yang hidupnya lebih panjang dari kebanyakan tren di internet Indonesia. Ia tidak butuh algoritma untuk bertahan. Cukup satu grup WhatsApp keluarga, satu kolom komentar di video dashcam, atau satu status Facebook yang dibagikan ulang ribuan kali. Bunyinya kira-kira begini: "Hati-hati kalau ada motor sein kanan, belok kirinya yang beneran." Atau variannya yang lebih jujur: "Sein itu aksesori, Bro. Buat ibu-ibu, fungsinya dekoratif."

Kita tertawa. Atau setidaknya, kita terbiasa tertawa. Lelucon ini bukan lahir dari satu momen tunggal. Ia adalah endapan dari ratusan video yang berseliweran di platform seperti TikTok, YouTube Shorts, hingga grup Telegram pengemudi ojek online—video-video berdurasi pendek yang merekam momen "dramatis" di jalan raya: seorang perempuan paruh baya yang tiba-tiba memotong jalur, berhenti mendadak di tengah simpang, atau berputar balik tanpa isyarat yang terbaca. Caption-nya sudah bisa ditebak sebelum dibaca: "Mak-mak alert," atau "Waspada ibu-ibu jam segini," atau yang paling populer, disertai emoji tawa berlinang air mata sebanyak mungkin.

Di dunia maya Indonesia, frasa "ibu-ibu di jalan" telah bertransformasi menjadi sebuah shorthand budaya, semacam kode bersama yang cukup diucapkan untuk membangkitkan gambaran tertentu secara instan: sosok perempuan dengan helm separuh kepala, tas belanja tergantung di setang, dan gaya berkendara yang dianggap "nggak tau aturan." Stigma ini begitu mengakar sampai ia tidak lagi memerlukan konteks. Ia telah menjadi meme dalam arti paling harfiah dari kata tersebut, sebuah unit budaya yang meniru dirinya sendiri, menyebar, dan bermutasi tanpa kehilangan inti pesannya: bahwa perempuan, terutama ibu-ibu, adalah anomali yang merepotkan di jalan raya.

Yang menarik, sekaligus yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak, adalah betapa mudahnya kita menerima narasi ini sebagai kebenaran yang self-evident. Tidak ada yang bertanya: dari mana data ini berasal? Tidak ada yang mempersoalkan apakah memang secara statistik ibu-ibu adalah kelompok yang paling sering menyebabkan kecelakaan. Kita cukup tertawa, lalu scroll ke konten berikutnya.

Padahal, jika kita bersedia sejenak meletakkan ponsel dan bertanya dengan serius, data berbicara dengan nada yang sangat berbeda. Laporan kecelakaan lalu lintas Korlantas Polri secara konsisten menunjukkan bahwa pelaku kecelakaan terbanyak adalah laki-laki muda usia produktif, bukan perempuan paruh baya. Riset mobilitas perkotaan di berbagai kota besar Indonesia juga menunjukkan bahwa perempuan cenderung memilih rute yang lebih aman, kecepatan yang lebih rendah, dan waktu tempuh yang lebih terencana dibanding laki-laki. Namun tidak ada satu pun dari fakta ini yang berhasil menggeser dominasi narasi lelucon tersebut, karena lelucon itu tidak pernah benar-benar tentang data. Ia tentang sesuatu yang jauh lebih dalam dan jauh lebih lama.

Inilah paradoks yang menjadi titik tolak esai ini: mengapa sebuah stereotip yang tidak berpijak pada bukti statistik yang kuat bisa begitu gigih bertahan, bahkan berkembang, di ruang-ruang digital kita? Mengapa kita lebih mudah percaya pada video dashcam tiga puluh detik daripada pada kompleksitas kehidupan seorang perempuan yang setiap pagi harus mengantar anak ke sekolah, mampir ke pasar, lalu bergegas ke tempat kerja, semuanya dengan motor yang sama, di jalan yang sama, di bawah matahari yang sama?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak bisa ditemukan di kolom komentar mana pun. Ia tersimpan di persimpangan antara sosiologi, psikologi, dan kajian gender, di tempat di mana tawa berhenti menjadi tawa, dan mulai menjadi cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya.

Mobilitas yang Terpaksa: Perspektif Sosiologi Kemiskinan Ruang

Motor Bukan Pilihan, Motor adalah Kewajiban

Sebelum kita bicara tentang cara seseorang berkendara, kita perlu bertanya lebih dulu: mengapa ia berkendara. Pertanyaan ini terdengar sederhana, bahkan trivial. Tapi jawabannya menyingkap jurang yang sangat dalam antara bagaimana kita membayangkan perempuan di jalan raya dengan bagaimana perempuan itu sendiri mengalami jalan raya setiap harinya.

Bagi sebagian besar laki-laki, motor adalah pilihan. Ia bisa berarti kebebasan, kecepatan, atau sekadar preferensi atas transportasi umum yang padat. Ada dimensi leisure di sana, yaitu komunitas touring, modifikasi, atau sekadar kesenangan berkendara di pagi hari yang masih sepi. Tapi bagi ibu-ibu yang setiap pagi memadati jalan-jalan kota Indonesia, tidak ada satu pun dari romantisme itu yang relevan.

Motor bagi mereka adalah perpanjangan dari dapur. Ia adalah alat kerja, bukan gaya hidup. Seorang ibu yang setiap pagi mengendarai motor untuk mengantar anak ke sekolah, lanjut ke pasar membeli bahan masak, kemudian bergerak ke tempat kerja atau warung atau ladang, ia tidak sedang memilih untuk hadir di jalan raya. Ia sedang memenuhi serangkaian kewajiban yang tidak bisa ditawar, yang berlapis-lapis, dan yang semuanya menuntut kehadiran fisiknya di tempat yang berbeda-beda dalam rentang waktu yang sempit. Motor adalah satu-satunya teknologi yang memungkinkan semua itu terjadi dalam satu hari yang sama.

Inilah yang oleh para sosiolog feminis disebut sebagai triple burden, yaitu beban tiga lapis yang ditanggung perempuan secara bersamaan: pekerjaan domestik (memasak, membersihkan rumah, mengurus anak), pekerjaan reproduktif (merawat, mengasuh, mendidik), dan pekerjaan produktif (mencari nafkah atau berkontribusi pada ekonomi keluarga). Ketiga beban ini tidak beroperasi secara bergiliran, melainkan secara simultan, dan motor adalah infrastruktur yang menjahit ketiganya menjadi satu hari yang utuh.

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah kata terpaksa. Banyak perempuan Indonesia, terutama di kota-kota menengah dan pinggiran kota besar, belajar mengendarai motor bukan dalam suasana santai di halaman rumah bersama pasangan yang sabar mengajari. Mereka belajar karena tidak ada yang mengajari. Mereka belajar karena bus tidak melewati ujung gang mereka. Mereka belajar karena ojek online terlalu mahal jika dihitung dalam frekuensi harian. Mereka belajar karena anak harus dijemput jam dua belas, dan tidak ada orang lain yang bisa pergi. Otodidak bukan pilihan ideologis. Ia adalah respons terhadap ketiadaan pilihan lain.

Jalan Raya yang Tidak Dirancang untuk Mereka

Ada asumsi yang begitu dalam tertanam dalam desain infrastruktur perkotaan Indonesia, dan infrastruktur kota di banyak belahan dunia lain, sehingga kita hampir tidak menyadarinya lagi: bahwa pengguna jalan adalah sosok tunggal, sehat, laki-laki, dan tidak sedang memikirkan hal lain selain berkendara.

Asumsi ini bukan konspirasi. Ia adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat selama puluhan tahun oleh perencana kota yang mayoritas laki-laki, untuk kebutuhan mobilitas yang juga secara historis didefinisikan secara maskulin: cepat, linear, efisien, dan berorientasi pada titik A ke titik B. Jalan raya dirancang untuk kecepatan dan arus, bukan untuk perempuan yang perlu berhenti sebentar di tepi jalan karena tas belanjanya miring, atau yang harus memutar balik karena lupa membeli kecap.

Trotoar yang sempit atau tidak ada sama sekali memaksa pejalan kaki, yang mayoritas adalah perempuan dan anak-anak, untuk masuk ke jalur kendaraan. Minimnya fasilitas parkir yang aman di dekat pasar tradisional membuat perempuan harus memarkir motor di titik-titik yang sembarangan dan sering menghalangi arus. Tidak adanya jalur khusus untuk kendaraan lambat mempertemukan dalam satu lajur yang sama: motor ibu-ibu yang sedang memikirkan belasan hal sekaligus, dengan motor laki-laki muda yang kesal karena jalannya tersumbat.

Lalu, ketika terjadi gesekan di antara keduanya, narasi yang lahir bukan tentang kegagalan infrastruktur. Narasi yang lahir adalah tentang kegagalan ibu-ibu untuk berkendara dengan “benar.” Ini adalah mekanisme yang sangat efektif: ketika ruang publik didesain untuk menguntungkan satu kelompok, dan kelompok lain terpaksa menavigasinya dengan cara yang tidak optimal, kesalahan dialamatkan kepada individu yang beradaptasi, bukan kepada sistem yang memaksa mereka beradaptasi.

Cara berkendara perempuan yang dianggap “pelan,” “ragu-ragu,” “tidak konsisten,” atau “nggak bisa baca situasi”sesungguhnya adalah perilaku yang sangat rasional dalam konteks yang tidak pernah benar-benar dirancang untuk mengakomodasi mereka. Seorang ibu yang berjalan lambat di gang sempit sambil sesekali menoleh ke kanan-kiri bukan sedang menunjukkan ketidakmampuannya, ia sedang melakukan kalkulasi keselamatan yang jauh lebih kompleks dari yang disadari orang yang membunyikan klakson di belakangnya.

Ketiadaan Pendidikan Berkendara yang Setara

Satu dimensi lagi yang hampir tidak pernah masuk dalam percakapan tentang “ibu-ibu dan jalan raya” adalah soal akses terhadap pendidikan berkendara yang formal dan setara. Di Indonesia, proses mendapatkan SIM, yang secara teoritis adalah gerbang menuju pengetahuan berkendara yang terstandarisasi, dalam praktiknya sering kali menjadi ritual yang dilewati dengan cara pintas, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pengawasan ketat. Artinya, standar pengetahuan teknis berkendara antarindividu sangat bervariasi, dan variasi ini tidak berkorelasi dengan gender, melainkan berkorelasi dengan akses dan sumber daya.

Namun ada satu perbedaan yang signifikan: laki-laki secara budaya mendapatkan lebih banyak informal training sejak usia dini. Anak laki-laki lebih sering diperbolehkan, bahkan didorong, untuk “coba-coba” motor sejak remaja, berlatih di lapangan, atau dibonceng sambil memperhatikan cara berkendara. Perempuan, sebaliknya, lebih sering berada di posisi penumpang, yaitu pasif, membonceng, tidak memegang setang.

Ketika seorang perempuan akhirnya harus berkendara sendiri, karena tuntutan hidup bukan karena kesiapan, ia melakukannya dengan bekal pengalaman yang secara struktural lebih tipis. Bukan karena ia kurang mampu belajar, tetapi karena sistem sosial tidak pernah memberinya ruang untuk berlatih tanpa tekanan, tanpa penilaian, dan tanpa konsekuensi yang terasa terlalu besar jika ia salah. Lalu kita berdiri di pinggir jalan, melihat hasil dari ketidakadilan berlapis itu, dan kita tertawa.

Beban Kognitif dan Divided Attention: Perspektif Psikologi

Di Balik Setang, Ada Kepala yang Penuh

Bayangkan sebuah komputer yang diminta menjalankan dua puluh program secara bersamaan. Ia tidak rusak. Ia tidak bodoh. Tapi pada titik tertentu, prosesnya melambat, responnya menjadi tidak menentu, dan ia mulai membuat keputusan yang terlihat “aneh” dari luar, bukan karena ada yang salah dengan perangkat kerasnya, melainkan karena kapasitasnya sudah melampaui batas. Otak manusia bekerja dengan prinsip yang tidak terlalu berbeda.

Psikologi kognitif mengenal konsep cognitive load, yaitu beban mental yang ditanggung oleh sistem kerja memori seseorang dalam satu waktu tertentu. Setiap tugas yang kita lakukan, setiap keputusan yang kita buat, setiap informasi yang kita proses, semuanya mengonsumsi sebagian dari kapasitas kognitif yang kita miliki. Kapasitas itu bukan tak terbatas. Ketika terlalu banyak hal diminta secara bersamaan, performa menurun, bukan karena orangnya tidak kompeten, melainkan karena sistemnya kelebihan beban. Kini bayangkan seorang ibu yang berangkat dari rumah pukul enam pagi.

Ia sedang mengendarai motor, itu benar. Tapi ia juga sedang mengingat bahwa uang sekolah anaknya jatuh tempo hari ini dan ia belum yakin apakah saldo rekeningnya cukup. Ia sedang menghitung apakah belok ke pasar dulu atau antar anak dulu mengingat jam buka toko bahan bangunan tempat ia bekerja sambilan. Ia sedang memikirkan apakah suaminya sudah makan pagi atau belum, karena tadi ia pergi sebelum suami bangun. Ia sedang memantau spion kanan karena ada bunyi aneh dari knalpot motor yang sudah sebulan belum sempat ia bawa ke bengkel. Ia sedang mencoba mengingat apakah ada PR anak yang belum ia tanda tangani. Dan di tengah semua itu, lampu sein menyala ke kanan, sementara ia belok ke kiri.

Dari sudut pandang pengendara di belakangnya, ini terlihat seperti ketidakmampuan teknis yang memalukan. Dari sudut pandang psikologi kognitif, ini adalah prediksi yang sangat bisa dipahami: ketika kapasitas mental seseorang sudah sepenuhnya tersita oleh urusan-urusan yang terasa lebih mendesak dan konsekuensinya lebih nyata, tugas-tugas motorik yang bersifat otomatis, termasuk mengoperasikan lampu sein dengan tepat, adalah yang pertama kali tergeser.

Kesalahan Teknis sebagai Gejala, Bukan Diagnosis

Ini adalah perbedaan yang sangat penting, dan sering kali tidak kita buat dengan cukup hati-hati: ada jarak yang jauh antara gejala dan diagnosis. Lampu sein yang salah adalah gejala. Ia adalah titik yang terlihat di permukaan. Tapi jika kita berhenti di sana, jika kita menjadikan gejala sebagai diagnosis, maka kita akan menghasilkan kesimpulan yang keliru: bahwa masalahnya ada pada individu yang tidak bisa mengoperasikan kendaraan dengan benar.

Diagnosis yang lebih jujur membutuhkan pertanyaan yang lebih dalam: apa yang menyebabkan kapasitas kognitif seseorang sudah sedemikian terkuras bahkan sebelum ia berangkat dari rumah? Jawabannya, sekali lagi, bukan ada di dalam kepala sang ibu. Jawabannya ada di dalam struktur kehidupannya.

Psikologi sosial mengenal fenomena yang disebut mental load atau cognitive labor, istilah yang menggambarkan pekerjaan tak kasat mata yang sebagian besar ditanggung perempuan dalam rumah tangga: mengingat, merencanakan, mengantisipasi, dan mengoordinasikan semua urusan domestik, bahkan ketika mereka tidak sedang secara fisik melakukannya. Ini bukan sekadar “banyak pikiran,” melainkan sebuah sistem pengelolaan yang berjalan terus-menerus di latar belakang, seperti aplikasi yang tidak pernah benar-benar ditutup dan terus menguras baterai.

Yang membuat mental load ini semakin berat adalah sifatnya yang tidak diakui. Ketika seorang laki-laki lupa mematikan lampu sein, itu adalah kesalahan individual, ia terburu-buru, atau motornya memang sering error. Ketika seorang perempuan melakukan hal yang sama, itu adalah bukti dari sebuah stereotip yang sudah menunggu untuk dikonfirmasi. Ketidakadilan dalam interpretasi ini tidak hanya menyakitkan secara sosial, ia juga menambah lapisan beban psikologis tersendiri bagi perempuan yang sudah tahu bahwa kesalahannya tidak akan dibaca dengan cara yang sama.

Berkendara dengan Tujuan, Bukan dengan Aturan

Ada satu lagi dimensi psikologis yang perlu kita bicarakan, dan ini mungkin yang paling sering disalahpahami. Ketika seorang ibu berkendara, ia beroperasi dalam apa yang oleh psikologi disebut sebagai goal-oriented behavior, yaitu perilaku yang sepenuhnya berorientasi pada pencapaian tujuan yang spesifik dan mendesak. Bagi ia, parameter keberhasilan berkendara bukan “apakah saya mematuhi semua aturan teknis dengan sempurna?” Parameter keberhasilannya adalah: “Apakah anak saya sampai di sekolah sebelum gerbang ditutup?”

Ini bukan tentang tidak menghormati aturan lalu lintas. Ini tentang hierarki konsekuensi yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-harinya. Konsekuensi dari anak yang terlambat masuk sekolah adalah konkret dan langsung: anak tidak boleh masuk kelas, ibu dipanggil guru, reputasi keluarga dipertaruhkan, anak menangis. Konsekuensi dari lampu sein yang tidak tepat adalah abstrak dan kecil kemungkinan terjadi, mungkin berupa teguran pengendara lain. Dalam kondisi kelebihan beban kognitif, otak manusia secara naluriah memprioritaskan ancaman yang paling nyata dan paling dekat. Ini bukan irasionalitas, ini adalah rasionalitas yang bekerja di bawah tekanan.

Yang ironis, perilaku yang sama, yaitu berkendara dengan orientasi tujuan yang kuat dan mengabaikan detail teknis demi efisiensi waktu, jika dilakukan oleh seorang eksekutif muda laki-laki dalam kondisi terburu-buru menuju rapat penting, tidak akan pernah menjadi bahan meme. Ia mungkin akan mendapat julukan “orang yang serius” atau “tipe yang fokus.” Tapi ketika ibu-ibu melakukannya, kita bertanya mengapa mereka tidak bisa berkendara dengan benar. Kita tidak pernah bertanya: benar menurut siapa? Dan dengan kondisi apa?

Dekonstruksi Lelucon: Kekerasan Simbolik dan Double Standards

Ketika Tawa Bukan Sekadar Tawa

Ada sebuah pertanyaan yang terdengar sok serius tapi sesungguhnya sangat penting: mengapa sesuatu terasa lucu?Bukan dalam arti teknis, bukan soal timing atau diksi atau ekspresi wajah pelawak. Tapi dalam arti yang lebih mendasar: apa yang sedang terjadi secara sosial ketika kita tertawa bersama-sama atas sesuatu? Siapa yang diposisikan di mana dalam tawa itu? Dan apa yang sedang kita setujui, secara diam-diam tanpa disadari, ketika kita ikut tertawa?

Humor, dalam banyak tradisi pemikiran, bukanlah aktivitas yang netral. Salah satu kerangka yang paling tua dan paling relevan untuk memahami ini adalah apa yang dikenal sebagai Superiority Theory of Humor, teori yang akar-akarnya bisa dilacak hingga ke Hobbes, filsuf Inggris abad ke-17, yang berpendapat bahwa tawa pada dasarnya adalah ekspresi dari rasa superioritas mendadak: kita tertawa ketika kita melihat kelemahan atau kecacatan orang lain, dan dalam momen itu, kita merasa lebih tinggi dari mereka. Tawa, dalam kerangka ini, adalah cara kita menegaskan posisi secara sosial dan hierarkis.

Jika kita terapkan kerangka ini pada lelucon “ibu-ibu salah sein,” maka yang sedang terjadi bukan sekadar berbagi humor ringan di kolom komentar. Yang sedang terjadi adalah sebuah ritual penegasan hierarki: bahwa ada kelompok yang secara “alami” lebih kompeten di ruang publik tertentu, dan ada kelompok yang secara “alami” tidak. Setiap kali lelucon itu dibagikan ulang, setiap kali emoji tawa itu diklik, kita sedang memperbarui kontrak sosial yang tidak pernah kita tanda tangani secara sadar tapi selalu kita hormati secara diam-diam: bahwa jalan raya adalah domain laki-laki, dan perempuan yang hadir di sana adalah tamu yang berpotensi merepotkan.

Kekerasan yang Tidak Berdarah

Bourdieu menggunakan istilah kekerasan simbolik untuk menggambarkan bentuk dominasi yang tidak bekerja melalui paksaan fisik, melainkan melalui sistem makna dan representasi yang diterima begitu saja, baik oleh yang mendominasi maupun yang didominasi. Kekerasan simbolik tidak meninggalkan memar. Ia tidak membutuhkan pelaku yang berniat jahat. Justru itulah yang membuatnya begitu efektif dan begitu sulit dilawan: ia bekerja melalui kategori-kategori yang terasa wajar, alami, bahkan menghibur.

Lelucon tentang ibu-ibu dan jalan raya adalah kekerasan simbolik dalam bentuk yang paling sempurna. Ia tidak menyakiti secara fisik. Ia bahkan tidak terasa seperti serangan, melainkan terasa seperti candaan yang tidak perlu dibawa terlalu serius. Dan justru di sanalah kekuatannya: pada saat seseorang, seorang ibu misalnya, merasa terganggu atau tersinggung oleh lelucon itu, ia yang akan dituduh baper, tidak punya selera humor, atau terlalu sensitif. Objek lelucon tidak diberi ruang untuk keberatan. Keberatan itu sendiri menjadi bahan tawa baru.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah arsitektur yang sangat rapi. Melalui mekanisme ini, narasi yang beredar tentang perempuan pengendara motor berhasil melakukan sesuatu yang sangat berbahaya: ia menghapus konteks. Ia menanggalkan dari seorang ibu segala kerumitan hidupnya, yaitu beban yang ia tanggung, keterbatasan yang ia navigasi, keberanian yang ia butuhkan hanya untuk berangkat setiap pagi, dan mereduksinya menjadi satu momen di jalan yang bisa ditertawakan. Seorang manusia yang utuh dan kompleks dikompresi menjadi sebuah punchline. Dan begitu ia menjadi punchline, sangat sulit untuk membuatnya kembali menjadi manusia.

Double Standards yang Tak Pernah Dipersoalkan

Salah satu cara paling efektif untuk menguji apakah sebuah standar benar-benar standar, atau sekadar kedok untuk prasangka, adalah dengan menukar subjeknya dan melihat apakah reaksi kita berubah.

Mari kita coba.

Seorang laki-laki muda berkendara dengan kecepatan tinggi, memotong jalur tanpa sein, dan hampir menyerempet pengendara lain. Di kolom komentar dashcam yang merekamnya: “Wih, lagi buru-buru bro.” Atau: “Mental anak motor emang gitu.” Atau tidak ada komentar sama sekali, karena ini sudah terlalu biasa untuk dicatat.

Sebuah konten yang sama persis, tapi subjeknya perempuan paruh baya: “Nah ini dia. Ibu-ibu di jam segini.”“Makanya jangan kasih SIM sama mak-mak.” “Stereotip itu ada karena emang nyata wkwkwk.”

Perilaku yang secara objektif lebih berbahaya, yaitu kecepatan tinggi, manuver agresif, dan pengabaian jarak aman, mendapat komentar yang jauh lebih lunak bahkan maklum. Sementara perilaku yang secara objektif lebih defensif, yaitu lambat, ragu-ragu, dan salah sein, menjadi bahan dakwaan kolektif terhadap seluruh kelompok gender. Ini bukan anomali. Ini adalah pola.

Double standards ini bekerja karena kita memiliki skrip yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan di ruang publik. Laki-laki yang agresif di jalan raya dibaca dalam narasi individualisme: ia lagi buru-buru, ia punya urusan, ia sedang dalam mode tertentu. Perempuan yang tidak sempurna di jalan raya dibaca dalam narasi esensialisme: begitulah perempuan, memang seperti itu dari sononya.

Individualisme versus esensialisme. Pengecualian versus konfirmasi. Satu kali kejadian versus bukti dari sebuah kebenaran universal.

Kerangka ini tidak adil, dan kita tahu itu, setidaknya secara intelektual, ketika kita dipaksa untuk berhenti dan memikirkannya. Tapi tanpa pemaksaan untuk berhenti itu, kita terus bergerak maju, terus membagikan video, terus menambahkan emoji tawa, dan terus memperkuat skrip yang memutuskan, jauh sebelum kita membuka mata pagi ini, siapa yang berhak mendapat empati dan siapa yang berhak mendapat lelucon.

Yang Hilang dalam Tawa Itu

Ada yang tidak pernah muncul dalam narasi “ibu-ibu penguasa jalanan,” dan ketidakhadiran itu sendiri adalah sebuah pernyataan. Yang tidak pernah muncul adalah fakta bahwa perempuan itu berani.

Bahwa ia, dengan segala keterbatasan akses pendidikan berkendara yang ia miliki, dengan segala beban kognitif yang sudah mengisi kepalanya bahkan sebelum ia menyalakan mesin, dengan segala desain jalan yang tidak pernah benar-benar dirancang untuknya, tetap keluar dari rumah. Tetap menyalakan motor. Tetap menavigasi jalan yang penuh dengan pengendara yang tidak sabar dan infrastruktur yang tidak ramah, demi memastikan bahwa anak-anaknya tiba dengan selamat, bahwa keluarganya makan malam, bahwa tagihan bulan ini terbayar.

Keberanian itu tidak terlihat seperti keberanian di dalam meme. Ia terlihat seperti kesalahan teknis. Ia terlihat seperti bahan tertawaan.Dan inilah mungkin yang paling mengikis dari seluruh mekanisme ini: bukan bahwa perempuan dianggap berbahaya di jalan raya, tapi bahwa agensi mereka, yaitu keputusan aktif untuk hadir, untuk bergerak, untuk mandiri dalam sebuah masyarakat yang secara historis meminta mereka untuk diam di tempat, diinterpretasikan bukan sebagai keberdayaan, melainkan sebagai bukti ketidakmampuan. Kita mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi potret kemandirian, dan kita jadikan punchline. Lalu kita bertanya-tanya mengapa perempuan tidak merasa disambut di ruang publik.

Kesimpulan & Refleksi: Mengganti Tawa dengan Pemahaman

Bukan Tentang Cara Berkendara

Jika ada satu hal yang ingin esai ini tanamkan, maka ia bukan tentang teknik berkendara. Ia bukan tentang apakah lampu sein harus dinyalakan tiga detik sebelum berbelok, atau apakah manuver tertentu melanggar kode etik lalu lintas yang tidak tertulis. Semua itu adalah permukaan, penting, tapi bukan inti.

Inti dari seluruh pembahasan ini adalah sebuah pertanyaan yang lebih tua dan lebih berat: siapa yang diberi hak untuk mendefinisikan “normalitas” di ruang publik, dan atas nama apa? Ketika kita menyebut cara berkendara seorang ibu sebagai “serampangan” atau “berbahaya” atau “tidak karuan,” kita sedang membandingkannya dengan sebuah standar. Dan standar itu, yaitu standar berkendara yang “benar,” yang “efisien,” yang “aman,” tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari konteks tertentu, dirumuskan oleh subjek tertentu, dan diasumsikan berlaku universal tanpa pernah benar-benar mempertanyakan apakah ia memang berlaku untuk semua orang dalam semua kondisi.

Standar itu dirumuskan untuk pengendara yang tidak sedang memikirkan dua belas hal sekaligus. Untuk pengendara yang belajar berkendara dalam kondisi yang mendukung, bukan karena terpaksa dan sendirian. Untuk pengendara yang menggunakan jalan raya sebagai sarana perjalanan dari satu titik ke titik lain, bukan sebagai infrastruktur yang menjahit seluruh kewajiban hidup mereka dalam satu perjalanan pagi. Ketika ibu-ibu “gagal” memenuhi standar itu, kita menyebut mereka tidak kompeten. Tapi yang sesungguhnya gagal bukanlah mereka.

Potret Kegagalan Sistemik

Apa yang selama ini kita baca sebagai kelucuan di jalan raya sesungguhnya adalah potret dari beberapa kegagalan besar yang terjadi secara bersamaan dan saling mengunci. Kegagalan pertama adalah kegagalan infrastruktur. Jalan raya kita tidak dirancang dengan perspektif yang inklusif, tidak untuk perempuan, tidak untuk lansia, tidak untuk mereka yang bergerak lambat karena membawa beban atau menjaga keselamatan orang lain. Desain yang homogen menghasilkan standar yang homogen, dan siapa pun yang tidak cocok dengan standar itu akan terlihat seperti masalah, padahal merekalah yang menanggung akibat dari desain yang tidak pernah mempertimbangkan keberadaan mereka.

Kegagalan kedua adalah kegagalan akses pendidikan berkendara. Selama pendidikan berkendara yang formal, setara, dan terjangkau belum bisa diakses oleh semua orang tanpa memandang gender dan kelas sosial, maka kesenjangan keterampilan berkendara akan terus ada dan terus disalahartikan sebagai kesenjangan kemampuan. Kegagalan ketiga adalah kegagalan distribusi beban domestik. Selama mental load dan triple burden terus ditumpukan secara tidak proporsional kepada perempuan, maka kapasitas kognitif yang tersedia untuk tugas-tugas lain, termasuk berkendara, akan terus terkuras sebelum hari bahkan dimulai. Ini bukan masalah individual yang bisa diselesaikan dengan “lebih fokus” atau “lebih hati-hati.” Ini adalah masalah struktural yang membutuhkan redistribusi yang struktural pula.

Dan kegagalan keempat, mungkin yang paling halus tapi juga yang paling mengakar, adalah kegagalan imajinasi sosial kita sendiri. Kegagalan untuk melihat bahwa di balik setiap kesalahan kecil di jalan raya, ada manusia yang utuh dengan kehidupan yang tidak sederhana. Bahwa “ibu-ibu salah sein” adalah kalimat yang jauh lebih kompleks dari yang terlihat: ia menyimpan di dalamnya sejarah panjang tentang siapa yang diberi ruang untuk belajar, siapa yang diberi waktu untuk fokus, dan siapa yang diharapkan tetap berfungsi penuh meski tidak pernah benar-benar mendapat dukungan yang penuh.

Motor sebagai Monumen

Ada sesuatu yang paradoksal, sekaligus sangat mengharukan, dalam gambaran seorang ibu yang mengendarai motor di tengah kemacetan kota Indonesia. Di satu sisi, ia terlihat biasa. Bahkan terlihat merepotkan, bagi sebagian orang. Helm separuh kepala, tas kresek di setang, gerakannya pelan dan sesekali tidak terduga. Ia bukan sosok yang akan muncul dalam iklan motor bertema kebebasan dan petualangan.

Tapi jika kita mau melihat sedikit lebih lama, bukan dengan mata yang sudah diisi oleh meme dan stereotip melainkan dengan kesadaran penuh tentang konteks yang membentuknya, maka yang terlihat adalah sesuatu yang jauh lebih dari sekadar pengendara motor yang tidak mahir. Yang terlihat adalah seseorang yang menavigasi sistem yang tidak pernah benar-benar dirancang untuknya, dengan bekal yang tidak pernah benar-benar disiapkan untuknya, untuk memenuhi kewajiban yang tidak pernah benar-benar diakui beratnya. Yang terlihat adalah seseorang yang setiap hari membuat keputusan-keputusan kecil yang tidak terlihat heroik tapi yang menopang kehidupan orang-orang di sekitarnya. Yang terlihat adalah agensi, yaitu kemampuan untuk bergerak, untuk hadir, untuk tidak menunggu seseorang mengizinkan atau mengantarkan.

Motor itu, dengan segala ketidaksempurnaannya di jalan, adalah monumen dari kemandirian yang diraih bukan dengan mudah, bukan dengan nyaman, dan tidak pernah dengan tepuk tangan. Ia heroik dengan cara yang tidak pernah dirayakan. Ia rapuh dengan cara yang tidak pernah diakui.

Mengganti Tawa dengan Apa?

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jujur, karena salah satu serangan paling umum terhadap kritik seperti ini adalah: “Jadi kita tidak boleh bercanda sama sekali?”

Bukan itu pesannya.

Humor adalah bagian dari cara manusia mengolah dunia, termasuk mengolah ketidaknyamanan, ketidakadilan, dan kompleksitas hidup. Tidak ada yang salah dengan tawa. Yang perlu kita periksa adalah arah tawa itu: apakah ia menertawakan kekuasaan, ataukah ia menertawakan yang tidak berdaya? Apakah ia membebaskan, ataukah ia memenjarakan orang di dalam stereotip yang sudah terlanjur mengurung mereka?

Humor yang menertawakan ibu-ibu di jalan raya bukan humor yang menantang kekuasaan. Ia humor yang mengonfirmasi kekuasaan, yang menegaskan bahwa ada hierarki di ruang publik, dan bahwa perempuan berada di posisi yang pantas ditertawakan jika mereka tidak berperilaku sesuai standar yang tidak pernah mereka ikut rumuskan.

Mengganti tawa itu tidak berarti menjadi kaku atau kehilangan selera humor. Ia berarti menggeser pertanyaan: dari “kenapa ibu-ibu nggak bisa berkendara dengan benar?” menjadi “sistem apa yang membuat kondisi ini terjadi, dan apa yang perlu berubah?”

Dari ejekan menjadi rasa ingin tahu. Dari penghakiman menjadi pemahaman. Dari punchline menjadi percakapan.

Penutup: Tentang Siapa yang Kita Pilih untuk Dilihat

Esai ini dimulai dengan sebuah lelucon yang viral. Dan ia berakhir dengan sebuah harapan yang sederhana tapi tidak mudah: bahwa kita bisa belajar untuk melihat lebih jauh dari permukaan. Melihat lebih jauh dari lampu sein yang salah, dari manuver yang mengagetkan, dari kecepatan yang dianggap terlalu pelan. Melihat ke arah yang lebih dalam, ke arah strukturnya, ke arah sejarahnya, ke arah kehidupan yang ada di balik setiap pengendara yang kita anggap bahan tawa.

Jalan raya adalah ruang publik. Dan ruang publik, pada prinsipnya, adalah milik semua orang, termasuk mereka yang belajar otodidak karena tidak ada yang mengajari, yang berkendara dengan kepala penuh karena tidak ada yang membantu meringankan, yang tetap datang meski sambutan yang mereka terima adalah klakson dan komentar. Kita tidak perlu menyelesaikan seluruh persoalan struktural tentang gender dan ruang publik untuk memulai sesuatu yang kecil tapi bermakna: berhenti sejenak sebelum mengklik bagikan pada video berikutnya, dan bertanya: apa yang sesungguhnya sedang saya setujui ketika saya tertawa pada ini? Jawaban dari pertanyaan itu, mungkin, adalah awal dari sesuatu yang lebih baik.

 

 

Referensi:

Aviv, E., Waizman, Y., Salley, C., & Bunge, S. A. (2024). Cognitive household labor: Gender disparities and consequences for maternal mental health and wellbeing. Archives of Women's Mental Health, 28(1), 5–14. https://doi.org/10.1007/s00737-024-01490-w

Engström, J., Markkula, G., Victor, T., & Merat, N. (2017). Effects of cognitive load on driving performance: The cognitive control hypothesis. Human Factors, 59(5), 734–764. https://doi.org/10.1177/0018720817690639

Galvão, E., Ferreira, B., & Menezes, C. (2024). Humorous responses to gender injustice: The contrasting effects of efficacy and emotions on women's collective action intentions. Sex Roles, 90(7–8), 512–527. https://doi.org/10.1007/s11199-024-01459-0

Comments

Popular posts from this blog

Konsep Dasar Kreativitas

Konsep Dasar Kreativitas Pendahuluan Kreativitas merupakan salah satu aspek penting dalam psikologi yang berkaitan erat dengan kemampuan individu untuk menghasilkan gagasan baru, berguna, serta sesuai dengan konteks sosial dan budaya. Mata kuliah Psikologi Kreativitas di Fakultas Psikologi USU menempatkan pemahaman tentang konsep dasar kreativitas sebagai landasan sebelum membahas pendekatan 4P, pengukuran, maupun aplikasinya. Definisi Kreativitas Secara umum, kreativitas didefinisikan sebagai kemampuan menghasilkan ide yang baru (novel) dan berguna (useful) (Amabile, 1983; Shalley & Breidenthal, 2021). Dua dimensi ini—kebaruan dan kegunaan—merupakan konsensus utama dalam penelitian modern. Meski demikian, beberapa pakar sebelumnya menekankan aspek orisinalitas dan kesesuaian (Barron, 1955; Stein, 1974). Karakteristik Kreativitas Kebaruan (novelty): ide harus berbeda dari yang sudah ada. Kegunaan (usefulness): ide harus relevan dan memiliki nilai praktis. Proses heuristik: kre...

Resume Kalat Chapter 1-Nerve Cells and Nerve Impulses

Nerve Cells  and Nerve Impulses Modul 1.1-The Cells of the Nervous System 1. Neurons and Glia Neuron adalah unit dasar sistem saraf, berfungsi menerima, memproses, dan menyampaikan informasi. Struktur utama neuron: soma (badan sel), dendrit (penerima sinyal), akson (penghantar sinyal), dan terminal sinaptik. Glia bukan hanya “lem” otak, tetapi memiliki peran penting: mendukung metabolisme neuron, membentuk mielin, membuang sisa metabolik, serta membantu komunikasi kimiawi. Jumlah sel glia hampir sama atau bahkan lebih banyak dibanding neuron, tergantung area otak. 2. The Blood–Brain Barrier Merupakan mekanisme pertahanan otak dari zat berbahaya dalam darah. Dibentuk oleh sel endotel yang rapat serta didukung astrosit. Melindungi otak dari racun, patogen, dan fluktuasi kimia darah, tetapi juga membatasi masuknya obat-obatan tertentu. Zat yang larut lemak (misalnya nikotin, alkohol) dan molekul kecil (oksigen, karbondioksida) dapat menembus dengan mudah,...

Konsep Sensasi dan Persepsi dalam Praktik Kedokteran Gigi

  Sensasi dan Persepsi dalam Praktik Kedokteran Gigi Pendahuluan Dalam konteks pelayanan kesehatan, pengalaman pasien terhadap prosedur medis tidak hanya ditentukan oleh kondisi biologis atau teknis semata, melainkan juga oleh bagaimana mereka merasakan dan menafsirkan stimulus yang berasal dari lingkungan klinis. Dalam praktik kedokteran gigi, pemahaman tentang sensasi dan persepsi menjadi penting karena pasien sering kali mengalami kecemasan, rasa takut, atau nyeri yang tidak sebanding dengan prosedur objektif yang dilakukan. Oleh karena itu, dokter gigi perlu memahami bagaimana sensasi diterima secara fisiologis dan bagaimana persepsi terbentuk secara psikologis sehingga dapat mengelola pengalaman pasien secara holistik. Menurut Kalat (2016), sensasi adalah proses biologis ketika reseptor sensorik mendeteksi energi fisik dari lingkungan, sedangkan persepsi adalah proses psikologis dalam memberikan makna terhadap sensasi tersebut. Kedua proses ini saling berhubungan dan me...