Sebab diasuh oleh musik El-Suraya, maka liriknya terasa lebih relate.
Bila diri ingin dikenang, semailah benih di tengah sawah.
Bawalah ilmu padi di ladang, tambah berisi, tunduk ke bawah.
Itu kutipan lirik dari bait pertama lagu Fatwa Orangtua. Sudah jarang kan dengar yang romansa melayu gini? Quote inspirasional yang trend sekarang biasanya in english atau tetap dalam bahasa Indonesia, tapi kurang Melayu. Misalnya kayak, "jangan suruh aku sabar, aku udah lewatin karantina Covid jauh dari keluarga", atau lainnya. Lirik itu dinyanyikan dengan alunan musik yang seperti irama padang pasir. Vokalnya juga mendukung, mendayu-dayu. Belum lagi ada elemen nostalgia, jadi setiap kali mendengar El-Suraya, seperti sedang berada di rumah Atok. Itu masih bait pertama, coba perhatikan kutipan lain ini.
Bila ingin harum bak mawar, jauhi sifat meninggi diri.Bisa ular tidakkan tawar, walau menyuruk batang berduri.
Bagaimana mungkin manusia bisa harum namanya jika dia tidak meninggikan dirinya? Hidup dalam sistem yang hanya menilai apa yang menonjol dan terlihat, maka bait di atas hanyalah khayalan. Pada akhirnya manusia menjadi penipu. Dia cari apa yang dapat meninggikan dirinya, tapi dibungkus dalam seolah-olah hal yang membumi. Dia berteman hanya pada manusia lain yang punya privilege, semata-mata ingin menjaga privilege yang dia punya. Dia berdiskusi setiap hari, tapi kosong, karena hal yang dilakukannya hanyalah agar orang yang didepannya punya kesan bahwa percakapan ini terjadi karena pertemanan. Padahal tidak. Semuanya cuma jual beli. Kebaikan sejati lahir dari kerendahan hati, sedangkan keburukan (bisa) tidak akan pernah berubah menjadi kebaikan hanya dengan tipu daya.
Comments
Post a Comment